Diriwayatkan bahwa dalam khutbahnya yang lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra
pernah berkata:
“Demi Allah, aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Aku dalam
posisi dan keadaan terpaksa. Aku ingin di antara kalian ada yang mampu
menggantikan posisiku ini. Apakah kalian mengira aku akan melaksanakan sunnah Rasulullah
Saw secara penuh? Tidak, aku tidak mampu melaksanakan semuanya. Sesungguhnya
Rasulullah Saw dijaga dengan wahyu, dan malaikat bersama beliau. Sementara
setan bersamaku, yang selalu menggodaku. Jika aku marah maka menjauhlah dariku,
agar aku tidak menzalimi rambut dan kulit kalian. Perhatikanlah ucapanku ini!”
***
Ini adalah
pengakuan yang jujur dari salah seorang sahabat utama Nabi Saw. Di sini Abu
Abakar Ash-Shiddiq ra mengakui bahwa posisi yang disandangnya sebagai seorang
khalifah bukanlah karena ia telah menjadi manusia terbaik di antara manusia
yang ada pada saat itu. Jabatan khalifah adalah sebuah amanah yang diberikan kepadanya.
Beliau tidak bisa menolak saat amanah diembankan kepadanya.
Pengakuan
lainnya adalah meskipun beliau sangat dekat dengan Nabi Saw, namun itu tidak
berarti memberikan kemampuan baginya untuk mengamalkan seluruh sunnah yang
berasal dari Beliau Saw. Abu Bakar ra menyadari kelemahannya sebagai makhluk
yang sangat berbeda dengan Rasulullah Saw. Rasul Saw selalu dijaga Allah dengan
wahyu dan para malaikat-Nya, sementara Abu Bakar ra selalu berhadapan dengan
setan yang tak kenal lelah berusaha menggodanya.
Nilai luar biasa yang dikandung oleh nasihat ini
adalah kejujuran untuk mengakui kekurangan diri dan tidak merasa menjadi
manusia yang paling utama hanya karena jabatan yang disandang. Sikap
inilah yang sudah banyak pudar, bahkan hilang, dari diri para pemimpin manusia
masa kini. Sebagian besar mereka menyangka, jabatan yang mereka sandang telah
menempatkan mereka pada posisi yang jauh lebih mulia dan istimewa dibanding orang
kebanyakan. Akibatnya, dalam segala aspek kehidupan, mereka meminta untuk diistimewakan.
Di sisi lain, di
tengah umat Rasulullah Saw ini, sering kali muncul manusia-manusia yang merasa
dirinya telah mengamalkan secara utuh seluruh sunnah beliau. Sehingga mereka
memandang saudara muslimnya yang lain sebagai manusia-manusia yang tak mengenal
sunnah dan hidup di luar garis yang diarahkan Baginda Rasul Saw. Tentu saja
sikap seperti itu jauh dari sikap yang ditunjukkan sahabat Nabi, Abu Bakar
Ash-Shiddiq ra.
Melalui nasihat ini, hendaklah kita kembali pada
pengakuan hakiki, bahwa sesungguhnya kita tidaklah lebih istimewa dan lebih
mulia daripada manusia-manusia yang lainnya. Sikap terbaik yang harus
kita pilih adalah senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dan
menyemangati diri untuk selalu mengamalkan sunnah-sunnah Rasululllah Saw, tanpa
harus merasa telah menjadi manusia sempurna dan istimewa di antara makhluk
ciptaan Allah di dunia ini.
Wallahu a'lam.
Sumber: Nasihat-Nasihat Emas Khulafaur Rasyidin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar